Tak lama kemudian, pada keheningan malam tiba2 mereka melihat adanya cahaya yang samar-samar. Dengan berpikiran dimana ada api disitulah ada daratan, akhirnya mereka mengikuti arah cahaya tsb, hingga tibalah mereka di daratan selat melaka tsb.
Mereka yang mendarat di tanah tsb sebanyak 18 orang, diantaranya : Ang Nie Kie, Ang Nie Hiok, Ang Se Guan, Ang Se Pun, Ang Se Teng, Ang Se Shia, Ang Se Puan, Ang Se Tiau, Ang Se Po, Ang Se Nie Tjai, Ang Se Nie Tjua, Ang Un Guan, Ang Cie Tjua, Ang Bung Ping, Ang Un Siong, Ang Sie In, Ang Se Jian, Ang Tjie Tui.
Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur Bagansiapiapi.
Ke-esokannya, mereka mendapatkan di sungai tersebut terdapat sangat banyak ikan laut, dengan penuh sukacita mereka menangkap ikan untuk kebutuhan hidup. Mulailah mereka bertahan hidup di tanah tersebut.
Mereka yang merasa menemukan daerah tempat tinggal yang lebih baik segera mengajak sanak-family dari Negeri Tirai Bambu sehingga pendatang Tionghoa semakin banyak. Keahlian menangkap ikan yang dimiliki oleh nelayan tsb mendorong penangkapan hasil laut yg terus berlimpah. Hasil laut berlimpah tsb di-ekspor ke berbagai benua lain hingga kemudian menjadi sangat terkenal dan bahkan di-klaim sebagai penghasil ikan laut terbesar ke-2 di dunia setelah Norwegia.
Tidak hanya hasil laut yang saat itu menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Bagansiapiapi, tapi ada juga hasil karet alam yang juga sangat terkenal. Dimasa perang dunia ke-1 dan perang dunia ke-2, Bagansiapiapi disebut sebagai salah 1 daerah penghasil karet berkualitas tinggi yang saat itu banyak sekali dipakai untuk kebutuhan peralatan perang seperti ban dari bahan karet.
Pengolahan karet alam tsb dilakukan sendiri oleh masyarakat Bagansiapiapi di beberapa pabrik karet di Bagansiapiapi. Namun setelah perang dunia ke-2 selesai, permintaan akan karet semakin menurun hingga beberapa Touke menutup pabrik karet tsb. Dan kini banyak orang telah melupakan prestasi besar karet Bagansiapiapi yang dulu sangat terkenal di Asia.
Beberapa versi menyebutkan asal usul kata Bagansiapiapi.
Ada yang menyebutnya karena oleh asal petunjuk api yang secara mistis diberikan oleh Dewa Kie Ong Ya saat para leluhur meminta petunjuk.
Versi lain mengatakan : cahaya terang yang dilihat orang para leluhur waktu kehilangan arah adalah cahaya yang dihasilkan oleh kunang-kunang. Dulu masih mudah menemukan kunang-kunang di kota Bagansiapiapi, namun kini agak sulit untuk melihat kunang-kunang di Bagansiapiapi.
Potensi Bisnis di Kota Bagansiapiapi.
Bila pemerintah daerah kembali memperhatikan dan memberi kemudahan bagi Anda yang ingin berbisnis di perkapalan, apakah Anda melihat peluang ini untuk mendapatkan manfaat dari nilai tambah kualitas kapal kayu yang pernah diakui dunia?
Walet, salah satu makanan favorite yang diminati oleh negara tetangga seperti Malaysia, Singapore, Hongkong dll. Kwalitas menjadi perhatian utama untuk para konsumen barang mahal tsb. Tidaklah heran bila para pencinta walet memburu walet hingga ke Bagansiapiapi karena selain hasil walet Bagansiapiapi adalah mutu kelas 1 juga karena lebih terjamin keasliannya. Anda tentu tidak akan ketinggalan potensi bisnis ini bukan ?
Walau tidak segencar memasarkan kecap asin seperti merek lainnya, namun kecap bangau merek A1 mendapat kepercayaan konsumen baik dari kelas bawah hingga kelas atas. Tentunya kepercayaan ini didapat karena gurihnya kecap asin ini. Disamping itu, terdapat juga makanan ringan yang sangat digemari banyak orang seperti : kacang pukul dan `pia` lainnya. Semuanya masih dikelola secara home-industries. Andakah orang yang akan menginvestasikan usaha Anda untuk mengelola dan memasarkan produk berkualitas ini ?
Perkebunan karet & perkebunan kelapa sawit terhampar luas belum terbenah, bila Anda tertarik dengan industri agrobisnis ini kami sarankan datang dan bicarakan dengan Pemerintahan Kabupaten setempat untuk mendapatkan solusi terbaik dan dukungan agar Anda tidak ketinggalan di bidang ini. Pemerintah Indonesia tidak tanggung-tanggung menargetkan Indonesia akan menjadi penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia.
Acara tahunan yang dilakukan setiap tanggal 16 bulan 5 (penanggalan bulan/cina) ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan nasional tapi telah menyedot perhatian dari negara tetangga seperti : Malaysia, Singapore, Hongkong dan Taiwan.
Andakah yang akan menyulap acara klasik ini menjadi sebuah potensi wisata budaya?
Kini Pemerintah Kabupaten didukung oleh Pemerintah Propinsi secara serius menggarap potensi wisata terlebih dengan adanya sebuah kawasan pantai menawan dengan panorama laut yang luar biasa indah dan di sini anda bisa menemukan habitat penyu hijau yang telah langka di dunia.
Siapkah Anda berinvest di sini ?
Pintu terbuka lebar untuk Anda mengunjungi kota kelahiran kami.
Sejarah Bakar Tongkang di Bagansiapi-api
Ritual Turun-temurun Sejak 128 Tahun SilamBakar Tongkang, saat ini tidak lagi menjadi milik masyarakat Tionghoa melainkan sudah menjadi milik masyarakat secara keseluruhan. Terlebih even ini sudah ditetapkan sebagai kalender wisata di Riau. Dukungan penuh pun diberikan tidak saja oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) juga oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.
Acara ini dipusatkan pada satu kelenteng tertua di Rohil. Namanya Kelenteng Eng Hok King, tempat ibadah tertua umat Kong Hu Chu. Kelenteng itu dianggap paling sakral karena merupakan satu-satunya bangunan yang selamat dan tetap utuh saat terjadi kerusuhan pembakaran massal pada 15 September 1998 silam.
Sebagian besar masyarakat Tionghoa di Bagansiapi-api percaya, malam itu, kapal tongkang akan didatangi Dewa Ki Hu Ong Ya (Dewa Laut). Ki Hu Ong Ya dipercaya sebagai Dewa Penyelamat yang telah memberi petunjuk kepada nenek moyang mereka yang sempat tersesat di laut. Petunjuk itu mengarah pada Bagansiapi-api yang mereka sebut sebagai tanah harapan. Ritual ini merupakan salah satu cara berterima kasih yang ditunjukkan warga keturunan Tionghoa di Bagansiapiapi. Ritual itu sudah dilakukan sejak 128 tahun silam, tetapi pelaksanaannya sempat tersendat pada era Orba.
Dalam pandangan budayawan Riau Yusmar Yusuf, tradisi ini merupakan sesuatu yang biasa dan dalam masyarakat Melayu tradisi-tradisi semacam ini sudah sering dilakukan, hanya saja tradisi-tradisi yang digelar itu tidaklah sebesar ritual Bakar Tongkang ini. "Ini tradisi biasa. Biasanya orang yang sedang dalam pelayaran dan apalah lagi namanya, bila ia menetap pada suatu tempat pastilah semuanya akan di bakar atau dibuang, ini dilakukan untuk menghindari dan melupakan daerah asalnya dahulu," ujarnya.
Hal ini pula terjadi pada kaum Fatimiah di Mesir 1.000 tahun lalu. Kaum ini dikejar-kejar oleh Bani Umayah, mereka lari dan bersembunyi di gua-gua. Untuk menghindari agar mereka tidak dikejar segala peralatan yang dimiliki mereka bakar.
"Kita tidak tahu apakah kedatangan masyarakat Tionghoa pada ketika itu karena adanya konflik di negerinya atau karena lain. Yang jelas kita, bila sampai pada satu tanah harapan akan melakukan pemusnahan barang-barang yang terkait dengan tanah sebelumnya," ujarnya.
Kaum Fatimiah ini, menurut Yusmar lagi, adalah kaum yang terpelajar dan memiliki ilmu pengetahuan yang cukup tinggi, ini dibuktikan dengan mereka mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo Mesir. "Kaum Fatimiah ini adalah kaum terpelajar dan memiliki ilmu pengetahuan yang cukup tinggi. Universitas Al Azhar itu kaum ini yang mendirikan,’’ tuturnya.
Marga Ang
Terasa mistis memang, tapi begitulah cara warga Tionghoa Bagansiapiapi mewujudkan rasa terima kasih dan pengharapan yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Dengan hio di tangan, mereka tumpah ruah di Kelenteng Eng Hok King. Menjalani berbagai ritual sembahyang, menggumamkan doa, hingga mengutarakan heguan atau nazar. Makna nazar hampir sama dengan keyakinan agama lain, kewajiban memenuhi niat atas pengharapan yang dikabulkan sang dewa.
Dari catatan yang ada, ritual itu bermula ketika 18 orang warga Tionghoa bermarga Ang menginjakkan kaki pertama kali di tanah Bagan pada 1826 Masehi. Masa itu, Bagan yang merupakan muara Sungai Rokan masih berupa rimba lebat tanpa penghuni. Ke-18 orang itu menggunakan tiga kapal kayu yang disebut wang kang atau tongkang. Konon, satu dari 18 orang itu adalah perempuan. Mereka orang Cina yang migrasi ke Desa Songkla di Thailand pada 1825 Masehi.
Masa migrasi di Thailand itu tidak berlangsung lama. Orang Cina pendatang dimusuhi penduduk asli hingga pecahlah kerusuhan. Karena sadar keberadaan mereka membawa pertikaian, para imigran itu pun pergi. Alkisah, mereka berlayar menggunakan tiga kapal mencari daerah baru bagi kehidupan. Di tengah perjalanan, dua tongkang tenggelam, satu selamat berlabuh di Bagan. Sebelum tiba di Bagan, mereka berlabuh terlebih dahulu di Kerajaan Kubu. Namun, karena merasa kurang aman, akhirnya pindah ke daratan Bagan.
Satu tongkang yang selamat dipercaya membawa patung Dewa Tai Sun di haluan tongkangnya dan Dewa Ki Ong Ya di rumah kapal. Dewa Tai Sun, menurut kepercayaan orang Tionghoa, merupakan dewa yang tidak memiliki rumah dan dikenal hidup sebagai pengembara. Dua dewa itulah yang menyertai keselamatan nenek moyang masyarakat Tionghoa yang merantau hingga ke Bagansiapiapi.
Nenek moyang warga Tionghoa Bagan mendarat di bumi penghasil ikan itu sekitar 1826 Masehi. Mereka hidup di muara Sungai Rokan dan menggantungkan nasib di laut. Kehidupan mereka berkembang dengan mendirikan bang liau (gudang penampungan ikan).
Satu abad setelah mendarat atau sekitar 1926, para keturunan Tionghoa itu melaksanakan ritual peringatan sejarah kedatangan nenek moyang. Ritual itu kemudian dilakukan teratur tiap tahun. Kota yang berada di barat daya Riau itu pernah mengalami masa jaya sebagai penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Norwegia. Namun, kejayaan perikanan di Bagansiapiapi lambat laun meredup.
ACARA Bakar Tongkang atau Sio ong Cuan di Bagansiapi-api yang berlangsung senin 28 Juni 2010 kemarin, penuh dengan pesan sejarah masa lalu tentang kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia, khususnya ke Bagansiapi-api, Riau.
Sejarah memang tidak bisa dibuat-buat, sejarah adalah fakta yang tak terbantahkan.
Begitu pula tentang sejarah marga Ang dari etnis Tionghoa yang menginjakkan kakinya pertama kali di tanah Bagan tahun 1826 masehi, kala itu Bagan masih ditumbuhi rimba dan hutan yang lebat. Saat itu tak ada penghuni manusia di muara Sungai Rokan itu.Sejarah memang tidak bisa dibuat-buat, sejarah adalah fakta yang tak terbantahkan.
Dengan menggunakan tiga tongkang, atau kapal layar terbuat dari kayu, marga Ang yang terdiri dari 18 orang—satu diantaranya perempuan, berlayar ke Bagan tahun 1826 masehi. Mereka ini sebelumnya adalah penduduk asli RRC yang migran ke Desa Songkla Thailand tahun 1825 masehi. Ketika pecah kerusuhan di Desa Songkla Thailand antara warga Desa Songkla dengan etnis Tionghoa ini tahun 1825 masehi, etnis Tionghoa menyelamatkan diri pindah ke Bagan dengan tiga tongkang kayu mengarungi lautan. Di tengah perjalanan di laut, dua tongkang tenggelam, dan satu tongkang selamat berlabuh di Bagan. Sebelum tiba di Bagan mereka berlabuh terlebih dahulu di Kerajaan Kubu. Namun karena merasa kurang aman, akhirnya etnis Tionghoa ini pindah ke daratan Bagan.
Satu tongkang yang selamat, menurut kisahnya disebabkan karena terdapat patung Dewa Tai Sun di haluan tongkangnya, yaitu satu-satunya dewa tak punya rumah, yang hidupnya hanya menggembara. Sedangkan dewa Ki Ong Ya diletakkan di rumah kapal (magun). Karena ada kedua dewa ini di dalam tongkang, maka selamatlah mereka menempuh perjalanan yang penuh tantangan itu.
Selanjutnya, di daratan Bagan saat mereka menginjakkan kakinya sekitar tahun 1826 masehi, ada tiga kerajaan Riau yang telah berdiri lebih dahulu yaitu Kerajaan Kubu, Kerajaan Tanah Putih, dan Kerajaan Batu Hampar. Kendati demikian etnis Tionghoa ini lebih nyaman menetap di Bagan, di muara Sungai Rokan sekarang di pinggir pelabuhan. Di sini mereka membangun pemukiman tradisional, termasuk membangun Bang Liau (gudang penampungan ikan). Disini juga dibuat pelataran untuk menjemur ikan asin.
Selain itu mereka juga membuat dok kapal kayu, yaitu tempat pembuatan kapal yang digunakan untuk menangkap ikan. Kapal kayu terbuat dari jenis kayu leban. Selanjutnya agak ke daratan Bagan etnis Tionghoa ini membangun klenteng Ing Hok Kiong.
Dari peringatan acara Bakar Tongkang tahun 2010 ini sebenarnya ada sesuatu yang tergandung di dalamnya, yaitu ingin melaksanakan sembahyang untuk mendapatkan berkat, keberuntungan, kemudahan rezeki sekaligus menyampaikan pesan sejarah. Tapi juga terdapat potensi pariwisata. Mereka selain melaksanakan ritual sembahyang, bakar hio, bakar kim, juga ikut dalam iring-iringantongkang ke lokasi pembakarannya di Jalan Perniagaan ujung Bagansiapi- api
Tidak ada komentar:
Posting Komentar